Sunday, June 2, 2019

author photo

Baik itu saat libur lebaran atau pun liburan di akhir pekan menuju ke Danau Maninjau, Anda disarankan untuk mampir ke rumah sang ulama besar asal Minangkabau yang bernama Buya Hamka. Bisa dibilang, rumah ulama besar ini cukup bersejarah sekali. Berada di tepi danau, tepatnya di desa Muaro Pauh, Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam. Kini keberadaan rumah tersebut sudah dialihfungsikan sebagai museum.

Mengintip Rumah Sang Ulama Besar, Buya Hamka
Rumah sang ulama besar, Buya Hamka

Dari rumah inilah Anda bisa menjumpai beberapa benda – benda dari peninggalan tokoh yang juga dikenal sebagai jurnalis, sastrawan, ahli tafsir, dan politis. Tidak hanya itu saja, di tempat ini pula Anda bisa meresapi semangat perjuangan yang dulu pernah digemakan oleh Buya Hamka.

Mengintip Rumah Sang Ulama Besar, Biya Hamka


Buya Hamka, atau yang juga dikenal dengan nama Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah lahir tahun 1908. Beliau adalah anak tertua dari 7 bersaudara yang terlahir di tengah keluarga yang cukup kuat sekali memegang ajaran agama. Abdul Karim Amrullah adalah ayah dari Buya Hamka, biasanya dikenal baik dengan sebutan Haji Rasul. Beliau adalah salah satu tokoh pembaruan Islam di kalangan masyarakat Minangkabau.

Tidak heran jika pada akhirnya karakter ke-Islaman yang ada dalam keluarga tersebut sangat kuat sekali, sehingga bisa dijadikan sebagai fondasi awal kepribadian Buya Hamka dalam kiprahnya ketika dewasa. Sudah sejak usia remaja, Buya Hamka memang cukup tertarik dengan dunia sastra dan organisasi pergerakan. Memiliki kegemaran membaca tentu saja semakin membuatnya memiliki wawasan yang luas, bahkan sampai diluar batas pemikiran generasi remaja kala itu di usianya.


Yang demikian ini juga pada akhirnya membuat Buya Hamka tekad untuk merantau ke Jawa ketika usianya masih menginjak 16 tahun. Di Jogja dan Bandung Buya Hamka cukup aktif di sejumlah organisasi pergerakan, seperti Sarekat Islam dan juga Muhammadiyah, bahkan beliau juga menyempatkan untuk berguru ke beberapa tokoh – tokoh pergerakan, seperti HOS Cokroaminoto.

Meksipun hanya dalam satu tahun, apa yang sudah didapatkan ternyata banyak berpengaruh terhadap perjalanan hidupnya. Bahkan setelah itu Buya Hamka banyak berkontribusi dalam dakwah dan pergerakan lewat kontribusi tulisan – tulisannya. Di era kemerdekaan sampai akhir hidupnya, Buya Hamka ternyata masih tetap aktif menulis di berbagai media, baik itu di majalah, buletin, buku, roman, atau pun tafsir Al-Quran. Setidaknya ada sekitar 118 judul buku yang sudah ditulisnya, dan sekitar 28 judul lagi yang bisa kita saksikan sekarang diantaranya koleksi buku yang ada di museum rumah kelahiran Buya Hamka.

Baca Juga : Lumpia Semarang, Oleh – Oleh Khas Semarang yang Harus Dibawa Pulang

Tentu saja tidak hanya itu, di musuem ini Anda juga bisa melihat banyak sekali benda – benda peninggalan lainnya dan dokumentasi perjalanan hidup Buya Hamka, seperti lukisan dan foto Buya Hamka selama hidupnya, juga beberapa penghargaan yang pernah didapatkannya. Menariknya, di tempat ini pula Anda juga bisa mendapati sebuah foto yang menggambarkan lautan manusia yang sedang mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatan terakhir.

Tetapi demikian, untuk bisa menuju ke museum Buya Hamka ini, dari Bukittinggi Anda masih harus melewati kawasan Kelok 44. Sampai kemudian Anda bertemu dengan sebuah persimpangan, dimana untuk arah ke kirinya adalah menuju ke musuem sementara itu arah kanannya sendiri adalah ke Lubuk Basung. Jarak menuju ke museum rumah Buya Hamka dari Lubuk Basung ini sekitar 7 km.

Demikianlah tadi informasi yang bisa kami bagikan tentang rumah sang ulama besar, Buya Hamka. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan Anda.

Next article Next Post
Previous article Previous Post