Thursday, December 3, 2020

author photo

Daftar isi [Tampil]

Gusi bengkak dan sariawan? Membayangkannya saja sudah membuat nyeri. Penyebab sariawan salah satunya adalah kekurangan vitamin C. Bagaimana dengan gigi bengkak? Penyebab gusi bengkak yang paling umum adalah gingivitis, yakni penyakit gusi ringan yang disebabkan oleh penumpukan bakteri pada gigi di sekitar garis gusi karena kurangnya kebersihan mulut. Selain itu, beberapa penyebab gusi bengkak antara lain adalah kehamilan, malnutrisi, infeksi, sariawan, dan makanan-makanan yang tertinggal di dalam gusi.


Gejala gusi bengkak dapat ditandai dengan perdarahan gusi, gusir merah dan bengkak, rasa sakit, dan bau mulut. Pengobatan gigi bengkak dan sariawan dapat dilakukan dengan cara alami dan kimiawi. Obat-obat untuk terapi gigi bengkak dan sariawan dapat dilakukan dengan memakai obat golongan analgetik dan vitamin. Golongan obat analgetik merupakan golongan obat yang digunakan sebagai obat pereda nyeri. Golongan obat analgetik termasuk obat Anti-inflamasi Nonsteroid (OAINS).

Daftar Obat Apotik untuk Gusi Bengkak

Penulis sarankan sebelum membeli obat khususnya obat keras, periksakan ke dokter terlebih dahulu. Teruntuk diagnosis gusi bengkak dapat didiagnosis dengan pemeriksaan fisik. Dokter akan memintamu untuk membuka mulut. Setelah itu, dokter akan memeriksa keadaan gusi yang bengkak atau mengalami peradangan. Selama pemeriksaan, dokter akan menanyakan riwayat kesehatan gigi dan gejala yang dialami. Baru setelah itu kamu akan mendapatkan rekomendasi obat apotik untuk gusi bengkak yang sesuai.

gusi bengkak dan daftar obatnya
gusi bengkak dan daftar obatnya

1. Asam Mefenamat

Asam mefenamat termasuk obat pereda nyeri yang digolongkan sebagai NSAID (Non Steroidal Antiinflammatory Drugs). Asam mefenamat digunakan untuk mengatasi berbagai jenis rasa nyeri, namun lebih sering diresepkan untuk mengatasi sakit gigi, nyeri otot, dan nyeri sendi.

Asam mefenamat
Asam mefenamat / doktersehat.com

Asam mefenamat merupakan senyawa obat yang rentan baik terhadap cahaya maupun udara atau kelembapan, sehingga penyimpanannya harus tidak lebih dari 30 derajat selsius dan terlindung dari cahaya.

2. Deksametason

Deksametason merupakan kortikosteroid yang memiliki efek anti-inflamasi paling kuat. Deksametason merupakan obat keras, penggunaanya harus sesuai dengan anjuran dokter.


Pemberian kortikosteroid tanpa peringatan dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang bisa bersifat sementara ataupun permanen yang terjadi pada level lokal maupun sistemik. Namun, meskipun obat ini digunakan dengan rekomendasi protokol, efek samping ini sering terjadi. Hal ini benar tergantung dari jalur pemberian, kondisi medis pasien ataupun pengalaman dari dokter sendiri. Kortikosteroid dosis tinggi atau penggunaan kronis dari kortikosteroid lebih sering menyebabkan efek samping dibandingkan dengan injeksi dosis tunggal.

3. Paracetamol

Parasetamol (asetaminofen) merupakan obat analgetik non narkotik dengan cara kerja menghambat sintesis prostaglandin terutama di Sistem Syaraf Pusat (SSP) . Parasetamol digunakan secara luas di berbagai negara baik dalam bentuk sediaan tunggal sebagai analgetik-antipiretik maupun kombinasi dengan obat lain dalam sediaan obat flu, melalui resep dokter atau yang dijual bebas. Parasetamol mempunyai efek samping yang paling ringan dan aman untuk anak-anak. Untuk anak-anak di bawah umur dua tahun sebaiknya digunakan Parasetamol, kecuali ada pertimbangan khusus lainnya dari dokter.

4. Ibuprofen

obat ibuprofen
obat ibuprofen

Ibuprofen merupakan turunan asam propionat yang memiliki efek antiinflamasi, analgesik dan antipiretik. Ibuprofen termasuk kedalam obat golongan NSAID (non-steroid anti inflammatory drug) yang bekerja menghambat siklooksigenase-1 dan siklooksigenase-2. . Ibuprofen mengobati nyeri dan inflamasi pada penyakit rematik dan penyakit musculoskeletal lainnya. Ibuprofen memiliki efek samping ketidaknyamanan gastrointestinal, mual, diare, terkadang pendarahan, dan terjadi ulserasi.

5. Vitamin

Terkadang tanpa kamu sadari, asupan nutrisi dari makanan yang kau makan setiap hari pun memengaruhi kesehatan gusi dan gigi. Apabila kamu kekurangan vitamin, khususnya vitamin B dan C, kamu akan lebih rentan mengalami gangguan mulut.


Vitamin C bermanfaat dalam tubuh karena digunakan untuk produksi kolagen yang ikut membentuk jaringan gusi. Oleh sebab itu, orang yang kekurangan vitamin C lebih rentan mengalami sariawan dan pembengkakan gusi. 


Sementara vitamin B dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan sel dan membantu melancarkan sirkulasi darah ke seluruh tubuh, termasuk gusi. 


Biasanya dokter juga akan memberikan resep antibiotik. Antibiotik merupakan jenis obat yang bekerja melawan bakteri penyebab infeksi dan penyakit pada manusia atau hewan. Cara kerja antibiotik bisa dengan membunuh langsung bakteri atau menghambat pertumbuhan bakteri untuk berkembang biak. Tetapi, antibiotik tidak dapat membunuh virus. Jangan sembarangan meminum antibiotik tanpa anjuran dokter karena bisa menyebabkan resistensi antibiotik. Resistensi antibiotik merupakan kemampuan bakteri untuk bertahan hidup dari efek serangan antibiotik.

ilustrasi gusi bengkak
ilustrasi gusi bengkak

Selain terapi obat dan vitamin, gusi bengkak dan sariawan dapat dilakukan pencegahan; menyikat gigi pelan-pelan, minum air putih secara rutin, dan membersihkan karang gigi.


Terutama karang gigi, karang gigi yang terus-terusan terbentuk di garis gusi dapat mengiritasi dan membuat gusi bengkak. Karang gigi terbentuk di atas atau di garis gusi. Karang gigi yang parah dapat menyebabkan periodontitis. Periodontitis merupakan infeksi yang terjadi pada gusi karena bakteri. Periodontitis dapat dengan mudah dikenali dengan kondisi gusi dan struktur periodontal (sekitar gigi) mengalami peradangan.

penderita sakit karang gigi
penderita sakit karang gigi

Karang gusi tidak bisa hilang hanya dengan menggosok gigi saja. Perlu bantuan dokter gigi. Karang di gusi harus dihilangkan lewat perawatan scaling menggunakan alat khusus. Scaling akan mengikis karang dari garis gusi maupun permukaan gigi. Perawatan scaling harus dilakukan di dokter gigi. Idealnya scaling dilakukan setiap 6 bulan sekali. Namun, bila mengalami masalah gigi yang berat, perawatan scaling dapat dilakukan lebih sering. 


Oleh karena itu, memang agak susah untuk menghilangkan karang gigi hanya dengan menggosok gigi saja. Karang yang semakin menumpuk di gigi, akan memengaruhi kesehatan gusi juga. Gusi akan meradang dan iritasi sehingga dapat menyebabkan gingivitis.

Next article Next Post
Previous article Previous Post